Riba Oh Riba… Menghancurkan Semuanya..

Ini adalah kisah nyata dari mba Misnayati Misdi. Semoga bisa memberi pelajaran berharga bagi Sahabat semua..

***

Saya yang salah, saya yang telah keliru, saya yang mau sesuatu itu instan.
Saya yang telah memberanikan diri menggadaikan sertifikat rumah dari orang tua saya ke Bank. Astaghfirullah…

Setelah menikah, saya jadi seorang istri yang hanya berdiam diri di rumah. Waktu itu kami tinggal di Kreo Tangerang. Sebelumnya saya karyawan outsourching di sebuah Bank di bagian kartu kredit (dulu belum tahu kalau riba). Alhamdulillah sebulan setelah pernikahan kami Allah menitipkan amanah di rahim saya. Anak pertama kami lahir 4 Juni 2008.

Saya menikmati peran sebagai seorang istri dan ibu. Ya benar-benar sebagai ibu rumah tangga tanpa ada embel-embel bisnis apapun. Sesekali saya berkunjung ke toko suami di Tanah Abang. Suami saya mengontrak toko di area Kebon Kacang Tanah Abang, menjual celana jeans pria dewasa hasil produksi sendiri. Setiap sabtu saya mengingatkan beliau apakah penjahit sudah gajian, saya takut kalau para penjahit telat digaji, kasihan rasanya dan itu sudah menjadi tanggung jawab kami.

Alhamdulillah produksi dan penjualan berjalan lancar, dalam seminggu total upah penjahit bisa mencapi 21 juta/ minggu, terbayang kan berapa banyak produksi yang dihasilkan dalam 1 minggu.

Memasukki tahun 2010 saya menawarkan suami untuk menambah modal produksi dan mencicil beli mesin jahit biar punya konveksi pribadi. Awalnya suami gak setuju uang dari mana. Saya bilang kita gadaikan sertifikat rumah. Mei 2010 kami kontrakkan rumah di Kreo Tangerang dan kami ngontrak rumah di Tanah Abang agar suami tidak terlalu jauh dengan toko.

Agustus 2010 saya melahirkan anak ke dua. Dalam masa nifas dan masih pakai bekung September 2010 kami ke Bank untuk mengajukan kredit dengan jaminan sertifikat rumah. Oktober pihak bank menyetujui permintaan kredit kami sebesar 150 juta. Waktu itu namanya KUR (Kredit Usaha Rakyat).

Waktu berjalan, pembayaran bunga bank berjalan lancar, tapi naluri seorang istri tak bisa dibohongi karena setelah semua akses dengan suami jadi lebih dekat tapi berasa jauh, hati gelisah dan tak tenang.

Setiap hari saya mengurus 2 batita. Sesekali ke toko dan tanya ke karyawan tentang penjualan. Jawab mereka, “Banyak bu tapi rata rata giro..”. Astaghfirulloh kalau kebanyakan giro kita gak punya duit cash buat keperluan produksi. Saya cek giro-giro itu ada yg cair, ada yang pending bahkan ada yang reject!

November 2011 Allah Yang Maha Baik, Allah tunjukkan kekhilafan imam saya tanpa saya keluar rumah. Inikah bayaran kesetiaan seorang istri yang hanya sebagai ibu rumah tangga?

Ujian belum berakhir, 2012 saya mendengar ada “anak kecil” dari suami saya di luar sana. Serasa tidak percaya saya telpon bundanya, ternyata benar! Ya Robbi untung jantung dan hatiku ciptaanMu, andaikan made in Japan pasti baut-bautnya sudah terhambur berjatuhan..

Titik awal saya memulai dagang online, saya gak tahu apa itu BBM, apa itu twitter, yang saya punya hanya FB itu juga dibuatin adik saya. HP BB aja saya gak punya, tak jarang para sahabat SMS ke saya, “ayooo donk beli BB biar bisa bbm-an”.. Dalam hati, saya bertekad harus punya masa depan, hati saya boleh hancur tapi tidak dengan masa depan anak anak saya. Berbisnis karena dendam karna tidak ingin lagi “mengemis”. Astagfirulloh…

Malam malam panjang saya bersimpuh denganNya untuk menumpahkan segala keluh kesah dan masalah saya. Karena memang hanya Dia yang bisa menolong saya.

Saya gadaikan emas saya untuk memulai bisnis online (lagi lagi riba, dan belum tahu kalau Riba). Saya jalan ke pasar metro Tanah Abang bertanya ke beberapa toko berapa harga baju perlusin, baju apa yang lagi trend. Entah gimana caranya, Alhamdulillah dagangan online laris ada aja orang yang baru dikenal mempercayakan saya untuk saya belanjakan orderannya. Dan sampai sekarang silaturahmi dengan mereka masih baik.

Ego saya muncul ketika saya sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Alhamdulillah 1,5 tahun pertama jualan online saya bisa pergi umroh, saya bisa ikut asuransi, tapi lagi-lagi karena kekurangan uang pergi umroh saya menggadaikan emas..

2 bulan setelah pulang umroh saya hamil anak ke 3.. Alhamdulillah walau hamil muda dan mengurus 2 balita juga online masih bisa dijalanin. Saya stop jualan baju, beralih ke produksi sprei, mukenah, khimar. Jujur saya bukan fashionable yg suka ngikuti tren fashion. Saat ini saya lebih suka mengunakan gamis longgar dan khimar atau bergo.

Ketika usia kehamilan memasuki bulan ke 5, saya memberanikan diri bersilaturahmi dengan “anak kecil” itu dan bundanya. Sampai di sana dibantu seorang sahabat soleha saya bertemu bundanya juga neneknya.

Astagfirulloh ya Robb, ada foto imamku di ruang tamu di rumah itu. Lagi lagi karena hati ini made in Allah, saya masih bisa duduk dan berbincang dengan mereka. Coba hati ini jahitan konveksi pasti jahitannya sudah brudul karena menahan sesak..

*******

Bersambung ke artikel selanjutnya: Kisah Bebas Hutang Mba Misnayati Misdi.

Bagikan