Pertanyaan Lain Yang Sering Ditanyakan Pada Penjualan Properti Syariah

Dalam membeli sebuah unit properti atau rumah syariah terkadang calon pembeli masih banyak juga yang belum mengerti dan sering menanyakan hal ini kepada developer:
Kenapa Harga Cash dan Kredit bisa berbeda, dan apakah ini sesuai syariah?

Mungkin juga sebagian Sahabat yang kebetulan membaca tulisan ini masih punya pertanyaan yang sama. Barangkali ada yang bertanya: apakah hal tersebut tidak termasuk riba??
Karena properti bukanlah aset yang menyusut, justru semakin lama akan semakin meningkat nilainya. Lalu apakah perbedaan ini sah sesuai Syariah? Insya Allah, karena Nabi Muhammad SAW pun pernah mencontohkan.

Silahkan disimak hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَهُ أَنْ يُجَهِّزَ جَيْشًا فَنَفِدَتِ الإِبِلُ فَأَمَرَهُ أَنْ يَأْخُذَ فِى قِلاَصِ الصَّدَقَةِ فَكَانَ يَأْخُذُ الْبَعِيرَ بِالْبَعِيرَيْنِ إِلَى إِبِلِ الصَّدَقَةِ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah untuk menyiapkan pasukan, lantas unta berjalan di tengah-tengah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengambil unta yang masih muda dan masih kuat sebagai zakat. Beliau ketika itu menjadikan satu unta menjadi dua unta sebagai kompensasi tempo waktu yang ditunggu untuk unta zakat. (HR. Abu Daud no. 3357 dan Ahmad 2: 171. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini adalah hasan)

Jadi kesimpulannya:
Menawarkan barang dengan dua harga atau bahkan banyak harga adalah diperbolehkan dalam Islam. Tentunya dengan syarat, ketika kesepakatan (deal) akad jual beli itu terjadi, maka wajiblah ditetapkan hanya pada SATU HARGA.

Selain itu harus ada akad yang jelas, dimana harga yang dicantumkan itu adalah total pembayaran yang menjadi kewajiban bagi pembeli. Misalnya, harga unit rumah atau properti syariah secara cash adalah 300 juta dan harga secara kredit 10 tahunnya adalah 500 juta. Selama ketika akad disepakati mengambil salah satu skema, maka insya Allah hal ini boleh.

“Kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka (saling ridho) di antara kalian”. (Q.S. An-Nisa’: 29) Wallahu a’lam.

Kemudian ada juga yang sering bertanya: “Apakah sertifikat menjadi jaminan dari pembelian unit?” Maka jawabannya adalah bahwa untuk sertifikat tidak akan dijaminkan, karena dalam islam barang yang sudah dijual-belikan tidak boleh menjadi jaminan. Jadi jika nanti sertifikat pembeli sudah selesai, akan kami berikan langsung ke pemilik/pembeli.
Selain itu, tidak sedikit juga ada yang menanyakan: “Apakah yang Non muslim boleh membeli properti syariah juga?” Maka jawabannya: bahwa untuk Non muslim boleh membeli unit properti syariah, namun dengan aturan tidak lebih dari 5% dari total unit yang dijual.

Selain itu juga terdapat syarat bagi penghuni Non muslim yang membeli properti syariah, yaitu tidak boleh memelihara dan membawa hewan yang bersifat najis. Dan juga tidak melaksanakan acara keagamaan di dalam rumah/properti syariah yang telah dibelinya.

Bagikan