Kenapa Harus Menghindari KPR Bank

alasan hindari KPR Bank

Setidaknya ada 5 alasan mengapa sebaiknya kita menghindari KPR Bank, selain karena pada KPR Bank itu terdapat akad batil dan mengandung transaksi riba yang diharamkan di dalam syariat Islam:

1. Proses BI Checking Yang Ribet dan Memberatkan
Ini adalah tahap awal jika kita mau mengajukan KPR ke bank. Prosesnya ini bisa memakan waktu berminggu-minggu. Hal ini karena bank akan memverifikasi data-data kita secara mendalam. Bagi Anda yang bekerja sebagai pegawai atau karyawan tetap, mungkin hal ini tidak terlalu menjadi persoalan. Karena kelengkapan data kita sudah disediakan oleh kantor.

Namun bagi orang-orang yang bekerja sebagai wirausaha mikro,UKM, ataupun pedagang, syarat yang diperlukan tentu cukup memberatkan dan wajib dipenuhi. Seperti izin usaha, laporan keuangan yang mendalam, serta aliran kas usaha yang stabil.

Jika kita gagal memenuhi salah satu dari kriteria tersebut, maka pengajuan akan ditolak. Dan itu artinya impian kita untuk memiliki rumah harus dikubur dalam-dalam.

2. Denda Keterlambatan Pembayaran Membuat Biaya Yang Dikeluarkan Menjadi Sangat Besar
Ketika pengajuan ke Bank sudah diterima kemudian kita mulai mencicil, maka tidak boleh ada istilah terlambat dalam membayar cicilan walaupun keterlambatannya hanya sehari. Karena jika kita terlambat, maka akan dikenakan denda yang besarnya sesuai kebijakan bank yang menyediakan fasilitas KPR tersebut.

Tentu saja hal ini membuat biaya yang dikeluarkan untuk memiliki rumah menjadi semakin membengkak. Tak akan ada toleransi untuk keterlambatan pembayaran cicilan tersebut apapun alasannya.

3. Debt Collector Yang Meneror Bila Telat Membayar Selama Beberapa Bulan
Apabila kita sudah tidak mempu membayar cicilan karena alasan apapun, maka bersiap-siaplah menghadapi para debt collector yang memang sudah disewa oleh pihak bank agar kita segera membayar cicilan yang tertunggak.

Bisa dibilang Debt collector tersebut diberi wewenang untuk terus menekan, memaksa atau memojokkan nasabah agar segera membayar cicilan yang sudah tertunggak. Kalau sudah seperti ini tentu kita merasa tidak nyaman dan aman lagi.

4. Resiko Sita jika Gagal Bayar
Jika kita sebagai nasabah sudah tidak mampu membayar cicilan apapun alasannya, maka bersiap-siaplah untuk mengosongkan rumah. Dan akhirnya rumah tersebut harus diserahkan kembali ke pihak bank untuk kemudian dilelang.

Kemudian besaran nilai lelang juga hanya pihak bank yang menentukan dengan ketentuan nilai tersebut harus menutupi kekurangan cicilan nasabah.
Lalu kita sebagai nasabah hanya bisa meratapi hilangnya aset rumah tersebut dan juga kesia-siaan membayar cicilan selama ini.

Yang paling menguras emosi adalah jarang sekali pihak bank memberikan kelebihan sisa lelang rumah kepada nasabah karena biasanya rumah sitaan dilelang jauh di bawah harga pasar agar cepat laku.

5. Resiko Pinalty jika Melunasi Lebih Cepat
Sudah menjadi rahasia umum jika seandainya nasabah ingin mempercepat pelunasan cicilan rumah tersebut, maka nasabah akan dikenakan pinalty (biaya tambahan). Karena jika Anda sebagai nasabah ingin melunasi lebih cepat, hal tersebut berarti termasuk “ketidakpatuhan” Anda untuk membayar cicilan sesuai jangka waktu yang telah disepakati.

***
Jadi, masih mau membeli rumah dengan cara KPR Bank?

Selain karena hal tersebut termasuk riba yang sangat diharamkan dan termasuk dosa besar, KPR Bank tentu juga sangat merugikan serta memberatkan kita, sementara pihak Bank tidak akan pernah mau merugi.

Yuk hijrah..

Bagikan