Jangan Pilih Yang Haram

Kelak di hari perhitungan, semua manusia akan dihisab dalam dua hal tentang harta. Pertama, darimana atau bagaimana kita memperoleh harta. Dan kedua, untuk apa atau bagaimana harta tersebut kita gunakan.

Terkait tentang bagaimana kita dalam memperoleh harta (termasuk dalam hal membeli rumah atau properti), setidaknya ada 7 kemungkinan seseorang memilikinya dengan cara yang haram menurut syariat. Apa saja?

  1. Rumah yang diperoleh melalui transaksi pinjaman dan atau kredit riba perbankan seperti KPR ribawi.
  2. Rumah yang diperoleh dengan cara paksaan yaitu memaksa penjual untuk menjualnya.
  3. Rumah yang diperoleh dengan cara membeli kepada pihak yang belum memilikinya secara sempurna.
  4. Rumah yang diperoleh dengan akad kongsi tapi perkongsian tersebut tidak sesuai syariah.
  5. Rumah yang diperoleh dengan cara membeli dari penjual yang masih anak-anak (belum baligh atau mumayiz)
  6. Rumah yang diperoleh dengan cara membeli dari pihak yang sedang kehilangan akalnya (gila atau stress)
  7. Rumah yang diperoleh dengan cara membeli dari pihak yang tidak berhak menjualnya, baik via perorangan atau developer.

Kalau kita mau jujur, pada saat zaman sekarang ini beberapa poin dari ketujuh hal tersebut di atas sudah sangat umum terjadi di tengah-tengah kita. Dimana orang-orang sudah tidak memperhatikan dan memperdulikan lagi bagaimana caranya ia memperoleh harta bendanya, termasuk dalam memiliki rumah/properti. Padahal ancaman hukuman Allah dan Rasul-Nya terhadap orang-orang yang seperti itu sangat luar biasa kerasnya.

Bahkan walaupun harta yang telah diperoleh dengan cara yang haram tersebut kemudian digunakan untuk hal-hal kebaikan, untuk sedekah, zakat, atau untuk pergi haji sekalipun, maka hal tersebut tidak akan mendatangkan kebaikan dan manfaat.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dari Al-Qasim bin Mukhaimirah, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa mendapatkan harta dengan cara yang berdosa lalu dengannya ia menyambung silaturrahmi atau bersedekah dengannya atau menginfakkannya di jalan Allah, ia lakukan itu semuanya maka ia akan dilemparkan dengan sebab itu ke neraka jahannam.” (Hasan lighairihi, HR. Abu Dawud dalam kitab Al-Marasiil, lihat Shahih At-Targhib, 2/148 no. 1721)

Jadi Sahabat fillah semua, semoga kita semua semakin yakin dan sadar untuk selalu berusaha mencari dan memiliki harta dengan cara yang halal sesuai syariat Islam.

Aamiin..

Bagikan