Jangan Kejar Dunia, Tapi Kejar Ridho-Nya

jangan kejar dunia, tapi kejar ridho-Nya

Ada satu kisah yang sangat menginspirasi saya. Cerita ini ditulis oleh mas Saptuari tentang perubahan hidup salah seorang kawannya setelah berlepas diri dari riba menjadi jauh lebih baik dan tentunya lebih indah.

Langsung saja Sahabat semua simak ceritanya. Semoga bisa membawa hikmah dan pelajaran kebaikan..

*****

Seorang kawan datang ke rumah saya dengan mobil barunya. Putih mulusss, keluaran terbaru. Harganya 350 juta dibelinya cash! Tanpa kredit, tanpa nyicil, tanpa depe-depean, tanpa asuransi-asuransian.

Anehnya ketika datang dia tidak membahas sama sekali soal mobilnya, beda dengan orang yang biasanya sangat euforia punya mobil baru, biasanya akan menunjukkan setiap detail lekuk bodynya luar dalam, menjelaskan keunggulan mobilnya, akselerasinya, irit bensinnya, kedap suaranya dan lain-lain..

Walaupun barang kreditan pokoknya pamer harus selalu terdepan.. hehe

Saya yang penasaran malah bertanya duluan, ketika menuju masjid ke dusun sebelah, sengaja saya ambil kuncinya, saya pengen nyoba mobil barunya..

“Mmm… empuk, antep gak goyang, setirannya ringan, kedap suara, gasnya enteng, interior yang masih bau harum khas mobil baru..”

“Ini semua cobaan buat saya mas… Astaghfirullah.. astaghfirullah…” kawan saya berkata itu..

Lho! Punya mobil baru kok malah istighfar?

“Allah seperti ngasih bonus dunia ini buat saya, padahal selama ini saya hanya ngikut aturan ALLAH. Saya kejar perintahnya, semua saya lakukan, sholat selalu tepat waktu jamaah di masjid, amalan sunnah semua saya lakukan, pokoknya saya ingin ALLAH ridho pada hidup saya.. dunia ini apalah artinya”. Lanjutnya..

Yayaya… saya ingat.

Dia sudah 4 tahun bareng saya ngurusi #SedekahRombongan di Jogja. Di sela waktunya ngurusi bisnis, dia wakafkan waktunya mendata laporan-laporan kurir di lapangan agar tertib. Pernah sampai larut malam ngontak saya bertanya beberapa laporan dan pengajuan dana yang belum beres. Tanpa digaji, tanggung jawab tetap teratasi.

Bisnisnya sebagai suppliyer kain, benang dan juga produsen batik. Dia masuki kantor-kantor menawarkan pesanan massal untuk seragam kantor, mendatangi para pengrajin batik dan dia tawarkan kain polosan.

Sholatnya masyaAllah.. Pernah ia berkata kepada saya: “Selama bunyi adzan masih terdengar di telinga, maka saya akan cari dan datangi masjid itu untuk sholat.. tidak ada alasan uzur untuk saya sholat di rumah atau menunda-nundanya”

Di rumah dia takmir masjid, belajar ilmu hingga bisa jadi pengisi khutbah Jumat dan kajian-kajian ringan lainnya.

Dia memantaskan diri di depan ALLAH untuk meraih keberkahan dunia. Sebagai hamba yang layak dicurahi rejeki yang banyak, halal dan berkah..

Ketika dua tahun lalu dia meninggalkan riba, semua pinjaman di bank dan kartu kreditnya dilunasi, satu demi satu selesai. Kemudian dalam kondisi kepepet butuh modal, dia bersikukuh tidak mau utang bank lagi. Yang dia lakukan BERDOA terus menerus! Sampai ALLAH tunjukkan jalannya dia bertemu suppliyer yang bisa menjadi mitranya tanpa modal di depan.

Berjalan berbulan-bulan kerjasama itu lancar, sampai akhirnya si mitra memintanya membuatkan nota-nota palsu untuk jadi syarat utang baru ke bank. Tapi dia memilih mundur, tidak mau lagi terlibat di akad-akad itu apalagi sampai bikin surat palsu.

Dia berjalan lagi sendiri dengan keyakinan hati hingga pertolongan ALLAH terus datang dari kanan kiri.. Pesanan datang berkali-kali dalam jumlah massal yang bikin omzet meninggi.

Sepulang dari masjid saya serahkan kunci padanya, gantian saya disopiri. Kemudian saya bertanya: “Kenapa semua ibadah ini kau kerjakan sungguh-sungguh..?”

“Karena saya tidak tau, dari ibadah yang mana ALLAH mengabulkan doa-doa saya.. Rejeki saya berlimpah saat ini, saya pun takut kalau oleh ALLAH saat ini saya sedang diuji…”

Sembari saya menyaksikan, mulutnya terus mengucapkan istighfar sepanjang mobil berjalan pulang.

MasyaAllah..

Bagikan