Jangan Kejar Dunia, Tapi Kejar Ridho-Nya

jangan kejar dunia, tapi kejar ridho-Nya

Ada satu kisah yang sangat menginspirasi saya. Cerita ini ditulis oleh mas Saptuari tentang perubahan hidup salah seorang kawannya setelah berlepas diri dari riba menjadi jauh lebih baik dan tentunya lebih indah.

Langsung saja Sahabat semua simak ceritanya. Semoga bisa membawa hikmah dan pelajaran kebaikan..

*****

Seorang kawan datang ke rumah saya dengan mobil barunya. Putih mulusss, keluaran terbaru. Harganya 350 juta dibelinya cash! Tanpa kredit, tanpa nyicil, tanpa depe-depean, tanpa asuransi-asuransian.

Anehnya ketika datang dia tidak membahas sama sekali soal mobilnya, beda dengan orang yang biasanya sangat euforia punya mobil baru, biasanya akan menunjukkan setiap detail lekuk bodynya luar dalam, menjelaskan keunggulan mobilnya, akselerasinya, irit bensinnya, kedap suaranya dan lain-lain..

Walaupun barang kreditan pokoknya pamer harus selalu terdepan.. hehe

Saya yang penasaran malah bertanya duluan, ketika menuju masjid ke dusun sebelah, sengaja saya ambil kuncinya, saya pengen nyoba mobil barunya..

“Mmm… empuk, antep gak goyang, setirannya ringan, kedap suara, gasnya enteng, interior yang masih bau harum khas mobil baru..”

“Ini semua cobaan buat saya mas… Astaghfirullah.. astaghfirullah…” kawan saya berkata itu..

Lho! Punya mobil baru kok malah istighfar?

“Allah seperti ngasih bonus dunia ini buat saya, padahal selama ini saya hanya ngikut aturan ALLAH. Saya kejar perintahnya, semua saya lakukan, sholat selalu tepat waktu jamaah di masjid, amalan sunnah semua saya lakukan, pokoknya saya ingin ALLAH ridho pada hidup saya.. dunia ini apalah artinya”. Lanjutnya..

Yayaya… saya ingat.

Dia sudah 4 tahun bareng saya ngurusi #SedekahRombongan di Jogja. Di sela waktunya ngurusi bisnis, dia wakafkan waktunya mendata laporan-laporan kurir di lapangan agar tertib. Pernah sampai larut malam ngontak saya bertanya beberapa laporan dan pengajuan dana yang belum beres. Tanpa digaji, tanggung jawab tetap teratasi.

Bisnisnya sebagai suppliyer kain, benang dan juga produsen batik. Dia masuki kantor-kantor menawarkan pesanan massal untuk seragam kantor, mendatangi para pengrajin batik dan dia tawarkan kain polosan.

Sholatnya masyaAllah.. Pernah ia berkata kepada saya: “Selama bunyi adzan masih terdengar di telinga, maka saya akan cari dan datangi masjid itu untuk sholat.. tidak ada alasan uzur untuk saya sholat di rumah atau menunda-nundanya”

Di rumah dia takmir masjid, belajar ilmu hingga bisa jadi pengisi khutbah Jumat dan kajian-kajian ringan lainnya.

Dia memantaskan diri di depan ALLAH untuk meraih keberkahan dunia. Sebagai hamba yang layak dicurahi rejeki yang banyak, halal dan berkah..

Ketika dua tahun lalu dia meninggalkan riba, semua pinjaman di bank dan kartu kreditnya dilunasi, satu demi satu selesai. Kemudian dalam kondisi kepepet butuh modal, dia bersikukuh tidak mau utang bank lagi. Yang dia lakukan BERDOA terus menerus! Sampai ALLAH tunjukkan jalannya dia bertemu suppliyer yang bisa menjadi mitranya tanpa modal di depan.

Berjalan berbulan-bulan kerjasama itu lancar, sampai akhirnya si mitra memintanya membuatkan nota-nota palsu untuk jadi syarat utang baru ke bank. Tapi dia memilih mundur, tidak mau lagi terlibat di akad-akad itu apalagi sampai bikin surat palsu.

Dia berjalan lagi sendiri dengan keyakinan hati hingga pertolongan ALLAH terus datang dari kanan kiri.. Pesanan datang berkali-kali dalam jumlah massal yang bikin omzet meninggi.

Sepulang dari masjid saya serahkan kunci padanya, gantian saya disopiri. Kemudian saya bertanya: “Kenapa semua ibadah ini kau kerjakan sungguh-sungguh..?”

“Karena saya tidak tau, dari ibadah yang mana ALLAH mengabulkan doa-doa saya.. Rejeki saya berlimpah saat ini, saya pun takut kalau oleh ALLAH saat ini saya sedang diuji…”

Sembari saya menyaksikan, mulutnya terus mengucapkan istighfar sepanjang mobil berjalan pulang.

MasyaAllah..

Bagikan

Hati Pembenci Menjauhkan Rezeki

Kisah inspiratif ini adalah pengalaman pribadi dari Mas Saptuari tentang bagaimana beliau menata dan berdamai dalam hatinya atas masa lalunya yang telah banyak menguras emosi dan perasaan yang gak enak terhadap orang lain.

Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran berharga ya. Aamiin..

***

Saya berada di tengah-tengah 270 an peserta Millionare Mindset Bootcamp di sebuah hotel di Jogja yang dibimbing pak Mardigu Wowiek, pemilik 32 perusahaan nasional dan pendiri Rumah Yatim Indonesia dengan 7000 anak asuh itu.

Pada satu sesi, pak Wowiek dan teamnya bergantian membimbing peserta..
“keluarkan seluruh dendam kalian, rasa marah dan kecewa kalian yang ada di hati terdalam! Keluarkaaannn!!!”

Kertas putih yang diletakkan di atas kursi itu jadi sasaran hantam mereka, dipukul sekuat tenaga. Energi buruk itu keluar semua diantara jeritan dan teriakan yang memekakkan telinga.. Saya tidak tau apakah ada kursi yang jebol menampung kemarahan itu.

Tapi saya gagal.. Saya gagal mengeluarkan amarah saya.. Di sebelah saya kang Otang seorang therapist dan penggiat NLP juga diam. Ruangan dimatikan lampunya, tapi ada sedikit bayangan saya bisa melihatnya dia diam saja.. 5 orang di belakang saya mengamuk sejadi-jadinya, kami semua duduk di lantai dengan kursi di depan kami untuk dijadikan sangsaknya..

Saya gagal..! Tapi saya menemukan ilmunya..

Saya berusaha menemukan dendam, kemarahan, kecewa, amarah, dengki, dan semua kebusukan yang ngganjel di hati.. Saya paksa keluarr agar jadi hantaman..

Dan saya tetap gagal..

Selama 5 menit yang gelap itu, hanya bibir saya yang terus bergerak.. Tak henti mengucapkan: Hasbunallah wani’mal wakil, ni’mal maula wani’man nasir (Cukup bagiku Allah sebaik-baik penolong dan pelindungku).

Saya sudah berdamai dengan masa lalu saya..

Untuk orang yang pernah memaki saya, membully, merendahkan, mengancam, mencaci maki, menusuk dari belakang, mengkhianati, menipu saya, menggoblokkan dan mentololkan saya, mengirimkan ‘cuih’nya kepada saya, mengusir serta menolak saya selama masa kecil hingga dewasa, sudah saya maafkan dan ikhlaskan semua..

Dendam itu tidak muncul..
Amarah itu tidak ada lagi…
Kecewa itu jadi lebur entah kemana…

Sselama 5 menit pertempuran hebat itu, kursi dan kertas tetap utuh..

Saya dapat ilmunya, saya dapat..!!

Panteess setelah 6 tahun saya babak belur dihajar utang dan riba, dalam 8 bulan saya bisa melunaskan semuanya..
Lunass nass!!
Ludess dess!!

Selama itu saya fokus pada hal-hal baik yang bisa saya lakukan, daripada sibuk menebar kebencian dan keburukan..

Saya berusaha kerasss jangan sampai mendzolimi orang lain, jangan sampai mengecewakan siapapun, saya rela minta maaf duluan jika tindakan saya salah dan melukai hatinya..

Saya gak makan gengsi..
Saya gak mau jadi pendengki..
Saya gak mau hati saya terkotori..

Pantes selama 8 bulan berjuang bebas utang itu ALLAH SWT hadirkan banyak keajaiban dalam hidup saya.

Rejeki berdatangan dari mana-mana, solusi hadir dari banyak tempat, saya fokus pada langkah-langkah kebaikan yang bisa saya lakukan tiap hari, dan saya tidak mengijinkan hati ini ternodai keburukan..

Ini ilmunya ALLAH… tak terbantahkan!

“Di dalam hati mereka ada penyakit, maka Allah menambah penyakit tersebut, dan mereka akan mendapatkan siksa yang pedih akibat apa yang mereka dustakan“
(QS. al-Baqarah: 10).

Bayangkan jika semua kebencian, kedengkian, dan keburukan itu dipendam di hati berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya, seperti kita membawa telor busuk, tomat busuk, atau kentang busuk di tas kita.. Bau menyengat kemana-mana!

Makanya kita kerasa banget jika berdekatan dengan orang yang hatinya dengki, maka ucapannya juga hanya akan menyakiti hati..

Jadi untuk kalian yang sedang berjuang lepas dari riba dan utang. Hal mendasar ini yang harus lebih dulu dibenahi… hati..

Bersihkan hati..
Perbanyak taubat..
Lakukan kebaikan-kebaikan..
Dari situlah rejeki-rejeki akan berdatangan..
Dan solusi-solusi akan Allah hadirkan…

Ayo.. berdamailah dengan masa lalumu, agar langitmu kembali biru..

Bagikan

Kisah Bebas Hutang Mba Misnayati Misdi

Tulisan ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya “Riba… Menghancurkan Semuanya” .

***

Setelah Sakinah lahir saya semakin tertekan mengurus tiga anak, konveksi, dan orderan..

ya Robb.. saya ini tulang rusuk atau tulang punggung??

Tak sanggup menahan beban seorang diri akhirnya mamaku tahu atas apa yg terjadi. Karena saya butuh sosok selain Allah untuk tempat saya berbagi cerita (note: jangan ceritakan kesedihan mu pada ibumu karena Beliau akan merasakan 10 x sakitnya apa yang kau rasakan). Kata sabarr dan bertahanlah demi anak-anak mereka butuh orang tua yg lengkap.

Keadaan makin memanas, hutang tak kunjung reda, keadaan rumah seperti badai, usaha suami bangkrut, anak-anak sering sakit-sakitan, telpon terus berdering dari debt collector kartu kredit.

Disaat orang orang terlelap, saya menumpahkan semua di atas sejadah. Tak jarang butiran mutiara menari-nari di pipi yang mulai menua.

Akhirnya Juni 2015 saya melakukan sesuatu yang dibenci Allah.

Dengan menggendong Sakinah kecil saya mendatangi pengadilan agama, saya mendaftar gugatan cerai. Sidang pertama berlangsung dan kami diberi waktu untuk mediasi 40 hari dengan dibimbing mediator. Keluarga besar shock terutama mama.

“Sudah pikir panjang nak, kamu sudah tahu konsekwensinya menjadi seorang “Janda”? Gimana anak-anak mu? Mereka tidak hanya butuh materi tapi butuh kasih sayang kedua orang tuanya. Ayoo kita pulang kau butuh refreshing. Ijin dengan suamimu rendahkan emosimu beberapa hari..”

Sampai di kampung halaman keluarga memberikan support agar jangan berpisah, ini semua ujian dari Allah. Allah akan menguji hambaNya yang ingin berhijrah dengan air mata. Air mata kasih sayangnya Allah.

Sampai suatu hari membaca kisah Nurshoffa Mujahidah bagaimana beliau terlepas dari riba dan berbisnis tanpa riba. Dan ada juga postingan mbak Veggy Monarika yang single mom bisa melunasi hutangnya 7M. Dan teh Dinii Fitriyah bagaimana dia bangkit setelah riba menghancurkan bisnisnya.

Saya baca apa-apa saja yang termasuk riba. Astaghfirulloh, ternyata apa yang saya lakukan selama ini adalah riba..!!

Proses mediasi saya dan suami berhasil, kami mulai semua lagi dari nol, menghadapi keterpurukan ini bersama.

Ya Robb.. bagaimana saya bisa mengambil sertifikat rumah dalam kondisi seperti ini…
Ya Robb.. jika Engkau mengijinkan, akan hamba jual rumah itu setelah sertifikatnya keluar..

Engkaulah Maha pengasih dan Maha penyayang. Setiap setelah sholat saya sholawatin foto rumah dan print out hutang yang harus dibayar, lebih-lebih jika waktu sholat Tahajud saya nangis sejadi-jadinya ngadu sama Allah, mohon ampunan Allah, biarlah Allah yang memberikan solusinya..

Agustus akhir, seorang hamba Allah yang mengetahui keadaan saya menelpon dan menanyakan rekening saya. Beliau meminjamkan uangnya 150 jt untuk tambahan saya menebus sertifikat rumah.

Allahuakbar!! Allahuakbar!!
Inilah solusi yang Allah berikan. Allah yang telah mengetuk hati seorang hamba untuk membantu keluarga saya.

Keesokan harinya saya ajuin permohonan keringanan penutupan kredit. Disupport teman-teman di grup Komunitas Tanpa Riba, bahkan ada yang berbagi info kalau saya ke BI dan lakukan BI checking minta printout dari sana berapa sisa pokok pinjaman. Setelah dari BI dan hasil printout menunjukkan sisa pinjaman 147 juta. Di bank hasil pinjaman 203 juta.

Proses negosiasi saya mulai, saya ajukan penutupan di angka 171 juta dan Alhamdulillah di acc! Alhamdulillah setelah 6 tahun akhirnya sertifikat itu bisa kembali ke saya..

Semoga kita semua istiqomah untuk tidak mendekati riba. Semoga Allah SWT memudahkan jalan kita menjemput rejeki yang halal dan berkah..

#AllahMahaPengampun
#
KembaliKeAllah
#MintaSamaAllah

——————————

Demikian kisah dari mbak Misnayati Misdi, seperti yang diceritakan kembali oleh mas Saptuari di grup facebooknya.

Ingatlah pesan Nabi Muhammad SAW: “Jauhi 7 perkara yang membinasakan (membawa pada kehancuran), diantaranya… memakan RIBA” [HR Bukhari 2766 & Muslim 89]

Semoga kisah di atas bisa kita jadikan pelajaran, agar lebih berhati-hati dalam hidup ini, agar ALLAH selamatkan hidup kita dari rejeki yang haram yang mendatangkan kecelakaan.

Aamiin..

kisah bebas hutang riba ibu misnayati misdi

Bagikan

Riba Oh Riba… Menghancurkan Semuanya..

Ini adalah kisah nyata dari mba Misnayati Misdi. Semoga bisa memberi pelajaran berharga bagi Sahabat semua..

***

Saya yang salah, saya yang telah keliru, saya yang mau sesuatu itu instan.
Saya yang telah memberanikan diri menggadaikan sertifikat rumah dari orang tua saya ke Bank. Astaghfirullah…

Setelah menikah, saya jadi seorang istri yang hanya berdiam diri di rumah. Waktu itu kami tinggal di Kreo Tangerang. Sebelumnya saya karyawan outsourching di sebuah Bank di bagian kartu kredit (dulu belum tahu kalau riba). Alhamdulillah sebulan setelah pernikahan kami Allah menitipkan amanah di rahim saya. Anak pertama kami lahir 4 Juni 2008.

Saya menikmati peran sebagai seorang istri dan ibu. Ya benar-benar sebagai ibu rumah tangga tanpa ada embel-embel bisnis apapun. Sesekali saya berkunjung ke toko suami di Tanah Abang. Suami saya mengontrak toko di area Kebon Kacang Tanah Abang, menjual celana jeans pria dewasa hasil produksi sendiri. Setiap sabtu saya mengingatkan beliau apakah penjahit sudah gajian, saya takut kalau para penjahit telat digaji, kasihan rasanya dan itu sudah menjadi tanggung jawab kami.

Alhamdulillah produksi dan penjualan berjalan lancar, dalam seminggu total upah penjahit bisa mencapi 21 juta/ minggu, terbayang kan berapa banyak produksi yang dihasilkan dalam 1 minggu.

Memasukki tahun 2010 saya menawarkan suami untuk menambah modal produksi dan mencicil beli mesin jahit biar punya konveksi pribadi. Awalnya suami gak setuju uang dari mana. Saya bilang kita gadaikan sertifikat rumah. Mei 2010 kami kontrakkan rumah di Kreo Tangerang dan kami ngontrak rumah di Tanah Abang agar suami tidak terlalu jauh dengan toko.

Agustus 2010 saya melahirkan anak ke dua. Dalam masa nifas dan masih pakai bekung September 2010 kami ke Bank untuk mengajukan kredit dengan jaminan sertifikat rumah. Oktober pihak bank menyetujui permintaan kredit kami sebesar 150 juta. Waktu itu namanya KUR (Kredit Usaha Rakyat).

Waktu berjalan, pembayaran bunga bank berjalan lancar, tapi naluri seorang istri tak bisa dibohongi karena setelah semua akses dengan suami jadi lebih dekat tapi berasa jauh, hati gelisah dan tak tenang.

Setiap hari saya mengurus 2 batita. Sesekali ke toko dan tanya ke karyawan tentang penjualan. Jawab mereka, “Banyak bu tapi rata rata giro..”. Astaghfirulloh kalau kebanyakan giro kita gak punya duit cash buat keperluan produksi. Saya cek giro-giro itu ada yg cair, ada yang pending bahkan ada yang reject!

November 2011 Allah Yang Maha Baik, Allah tunjukkan kekhilafan imam saya tanpa saya keluar rumah. Inikah bayaran kesetiaan seorang istri yang hanya sebagai ibu rumah tangga?

Ujian belum berakhir, 2012 saya mendengar ada “anak kecil” dari suami saya di luar sana. Serasa tidak percaya saya telpon bundanya, ternyata benar! Ya Robbi untung jantung dan hatiku ciptaanMu, andaikan made in Japan pasti baut-bautnya sudah terhambur berjatuhan..

Titik awal saya memulai dagang online, saya gak tahu apa itu BBM, apa itu twitter, yang saya punya hanya FB itu juga dibuatin adik saya. HP BB aja saya gak punya, tak jarang para sahabat SMS ke saya, “ayooo donk beli BB biar bisa bbm-an”.. Dalam hati, saya bertekad harus punya masa depan, hati saya boleh hancur tapi tidak dengan masa depan anak anak saya. Berbisnis karena dendam karna tidak ingin lagi “mengemis”. Astagfirulloh…

Malam malam panjang saya bersimpuh denganNya untuk menumpahkan segala keluh kesah dan masalah saya. Karena memang hanya Dia yang bisa menolong saya.

Saya gadaikan emas saya untuk memulai bisnis online (lagi lagi riba, dan belum tahu kalau Riba). Saya jalan ke pasar metro Tanah Abang bertanya ke beberapa toko berapa harga baju perlusin, baju apa yang lagi trend. Entah gimana caranya, Alhamdulillah dagangan online laris ada aja orang yang baru dikenal mempercayakan saya untuk saya belanjakan orderannya. Dan sampai sekarang silaturahmi dengan mereka masih baik.

Ego saya muncul ketika saya sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Alhamdulillah 1,5 tahun pertama jualan online saya bisa pergi umroh, saya bisa ikut asuransi, tapi lagi-lagi karena kekurangan uang pergi umroh saya menggadaikan emas..

2 bulan setelah pulang umroh saya hamil anak ke 3.. Alhamdulillah walau hamil muda dan mengurus 2 balita juga online masih bisa dijalanin. Saya stop jualan baju, beralih ke produksi sprei, mukenah, khimar. Jujur saya bukan fashionable yg suka ngikuti tren fashion. Saat ini saya lebih suka mengunakan gamis longgar dan khimar atau bergo.

Ketika usia kehamilan memasuki bulan ke 5, saya memberanikan diri bersilaturahmi dengan “anak kecil” itu dan bundanya. Sampai di sana dibantu seorang sahabat soleha saya bertemu bundanya juga neneknya.

Astagfirulloh ya Robb, ada foto imamku di ruang tamu di rumah itu. Lagi lagi karena hati ini made in Allah, saya masih bisa duduk dan berbincang dengan mereka. Coba hati ini jahitan konveksi pasti jahitannya sudah brudul karena menahan sesak..

*******

Bersambung ke artikel selanjutnya: Kisah Bebas Hutang Mba Misnayati Misdi.

Bagikan

Berkah Dari Sedekah Nasi Jumat

Kisah ini saya repost dari tulisan Andre Raditya; seorang motivator dan penulis buku Rezeki Level 9.

*****
Dulu.. Saya bikin nasi jumat pertama kali.. Karena kami waktu itu sedang bangkrut. Nggak punya duit. Tinggal 280rb thok…!!!

Lalu saya kuras sekalian dari ATM. Saya pergi ke pasar. Masak dan jadi 40 bungkus. Kemudian Saya sedekahkan karena saya pingin Alloh ganti dengan rezeki.

Kawan2..
Jangan dibalik ilmunya..

Nasi Jumat bukan dibuat saat ada uang. SALAH..! Justru kita ini yg butuh sedekah biar Alloh kasih ganti. Jadi kita itu bukan sedang ngasih makan orang. Tapi sebenarnya kita ini sedang nyari jalan keselamatan dan perlindungan saat nanti tak ada lagi yang bisa melindungi kecuali Alloh.

Apa yang kita berikan kepada orang saat ini adalah sedekah jariyah. Jika nasi itu jadi daging. Lalu tubuhnya dia pakai buat sholat. Dia beranak keturunan. Dia bekerja. Maka kita punya andil atas seluruh aktivitas hidupnya.

Bayangkan.. Antum semua diam. Tapi catatan kebaikannya terus bertambah karena orang yang antum kasih makan, sedang beramal kebaikan.

Ingat rumus sederhana ini:
Minus ketemu minus. Itu jadi plus. Waktu saya sulit, Saya berarti minus. Ya udah.. Saya minuskan semua sekalian saldo saya.

Alhamdulillah. Hari ini Alloh kasih plus buat kami..

15 bulan yg lalu Saya masih harus ngumpulin duit koin 500an dari bawah kursi, laci2 untuk beli tabung gas. Karena betul2 gak ada uang. Saya nggak banyak cerita. Tapi itu benar2 terjadi. Sisa2 Kebangkrutan masa lalu masih jadi masalah buat kami. Dan selama 2013-2016 Saya terus amalin rezeki level 9. Tanpa putus..

Sampai satu titik Alloh balik semua keadaan, harta yg dulu saya kumpulkan selama 8 tahun, yang Alloh ambil karena kebangkrutan, Alloh ganti hanya dalam waktu 1.5 tahun. Salah satu wasilahnya adalah nasiJumat ini. Saya yakin itu..

Jangan ngeluh perihal ibadah lantaran kita gak punya duit. Justru harusnya kita dobel biar Alloh ngasih kita rezeki.

Sejak saat itu.. Saya nggak bangga dengan status motivator. Saya mundur dari dunia training dan motivasi. Lebih seneng kembali ke majelis ta’lim, nggak ada tepuk tangan. Gak ada panggung. Gak ada fee. Tapi keberkahan..

Coba pikir ini baik-baik..

Kita kerja keras di satu perusahaan. Kerja sama bos. Ketemu orang hebat. Tapi kalau kita mati paling banter orang-orang hebat cuma kasih karangan bunga.

Tapi teman-teman kita di majelis taklim, teman ngaji, teman dakwah, pas waktu kita meninggal maka mereka nanti yang datang ta’ziyah, nyolatin dan nganter ke kubur.

Mana teman yang sebenarnya?? Temen kita adalah yg sama-sama datang ke majelis.

Saya pernah ketemu orang-orang besar. Orang hebat. Ngisi training di perusahaan besar. Punya nomer telpon direksi bumn. Tapi saya nggak yakin mereka bakal datang ke hari saya mati nanti. Paling kasih karangan bunga.

Sayangnya.. Itu semua nggak bisa buat nyuap malaikat munkar dan nankir di alam kubur nanti. Digebukin.. Tetep digebukin kalau kita salah jawab..

Na’udzubillah…

Jadi sedekah #NasiJumat ini bukan tentang kebanggaan. Tapi soal jalan keselamatan..

Bagikan

XBank (Bagian 2)

Tulisan ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya yaitu “Ketika Para Xbank Itu Berkumpul”.

Silakan disimak sampai habis ya..

Lanjut mas Danto dari Semarang memberikan testimoni:
“Saya ini 15 tahun di bank syariah. Saya gak merasa sebagai pelaku riba, dan suka nunjuk ke mereka yang di bank konvensional lah pelaku riba. Kami ini penyelamat, dan saya bangga dengan pekerjaan ini. Sampai satu ketika saya belajar fiqih muamalah, saya tercenung dengan praktek yang saya temui di pekerjaan saya. Ketika bicara akad murabahah bank saya tidak pernah benar-benar membeli barang itu baru kami jual kembali. Tidak pernah kami membeli, bagaimana kami bisa menjualnya? akad ini mengganjal di hati saya.

Lalu akad mudharabah.. Kenapa yang dibagi masih dari total uang yang dipinjamkan, bukan bagi hasil dari nilai keuntungan? Dan tidak ada resiko kerugian dengan adanya sita dan lelang. Lama berkecamuk dalam hati saya. Sampai ketika bertemu dengan salah satu ustadz saya berkata untuk membela diri, bahwa bank kami diawasi dewan syariah nasional. Jawaban ustadz itu membuat mati kutu..

“Nanti di akherat mas, engkau tidak bisa berlindung kepada siapapun termasuk kepada dewan syariah jika pelaksanaannya di lapangan menyimpang dari fatwa DSN atau bahkan dari aturan Allah..”

Hal itu yang membuat saya memutuskan berhenti jadi bankir, dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya..”. Dia menangis di atas panggung. Semua peserta terdiam.

Lalu saya memanggil kawan saya mas Rinanto Suryadhimirtha yang juga hadir, seorang pengacara muslim yang sudah melanglang buana sebagai pengacara di pihak bank dan leasing untuk maju ke panggung:

“Saya ini dulu membela bank dan leasing sampai tahap eksekusi lelang. Sampai orang yang punya aset itu nangis-nangis saya gak peduli. Ketika hijrah saya menyesal luar biasa dan sekarang saya bekerja untuk berbalik membela mereka. Bagaimana mungkin sudah bayar ratusan juta, pas mau melunasi utang pokoknya masih banyak tanpa mau memberi keringanan. Sampai tahap lelang sekarang saya hadapi.. saya bahkan datangi orang-orang yang dulu hartanya saya lelang, saya minta maaf kepada mereka. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya..”. Katanya dengan suara gemetar..

Dilain waktu ada seorang yang bertanya pada saya, “mas kalau banyak yang resign bank bisa tutup dong? Kita kalau mau transfer duit pakai wesel di kantor pos lagi?”

“Bank gak akan tutup bro, karena sistem ekonomi kapitalis dianut di negeri ini. Paling hanya keluar-masuk pegawainya yang kenceng, dan ratusan ribu lulusan sarjana tiap tahun tersedia di Indonesia..” jawab saya.

“Terus mas?”

“Kerinduan pada lembaga keuangan yang syar’i itu sekarang sedang menggebu-gebu dari masyarakat. Misal bank itu ibarat rumah.. ketika ada pipanya yang bocor, airnya mampet, plafonnya pecah, WC nya membludak dan bau, tidak langsung kita bakar rumahnya kan. Tapi diperbaiki satu-persatu hingga rumah itu layak huni dan membawa ketenangan penghuninya..”

“Mmm.. gitu ya mas, terus siapa yang bisa memperbaiki itu semua mas kalau pada resign?”

“Bola ditangan pemerintah tentunya, undang para ulama, ustadz-ustadz ahli fiqih muamalah dari berbagai perwakilan, sampai ketemu formula untuk pelaksanaan sistem bank yang bener-bener syar’i dan adil, dan menentramkan kita semua..”

“Apa mungkin ya mas?”

“Dulu tentara dan polisi wanita itu gak boleh pakai hijab lho.. setelah ada desakan dari masyarakat sekarang banyak tentara dan polisi wanita yang berhijab karena aturannya berubah. Ya kita doakan saja semoga suatu saat dapat terwujud..”

“Terus bagaimana bersikap pada bank mas?”

“Tak lebih seperti kantor pos, gunakan produk yang tidak ada ribanya seperti jasa transfer uang, menyimpan secukupnya, kalau ada rejeki lain putar di usaha lagi agar lebih bermanfaat, bukan ditimbun.. dan jangan membuka akad riba apapun bentuknya..”

Ketika sesi istirahat mau sholat dzuhur panitia meminta peserta keluar untuk difoto pakai drone. Mereka diberi bendera untuk dilambai-lambaikan.. Saya merinding membacanya..
“Jangan gadaikan akhiratmu untuk duniamu..”

Itulah XBank, perjalanan hijrah saudara-saudara kita yang menggetarkan hati.. Semoga kita bisa mengambil banyak pelajaran dan semangat hijrah dari mereka.

Sebuah postingan di facebooknya XBank ada tertulis begini:
“Karir tertinggi seorang bankir adalah.. resign!”

Jleb!

@Saptuari

xbank 1 xbank 2

Bagikan

Ketika Para XBank Itu Berkumpul

Bulan Januari lalu sempat heboh di sosial media tentang surat internal sebuah bank yang menganjurkan diadakan pengajian rutin karena banyak karyawannya yang resign. Surat itu banyak dikomentari oleh netizen karena ada penafsiran yang seolah-olah dicari ustadz yang bisa disetel tema pengajiannya sesuai pesanan. Tabu membahas soal riba di acara pengajian bank.

“Dicari ustadz yang pro riba..” komentar salah satu netizen

Sudah 5-6 tahun ini kran informasi seperti terbuka begitu lebar dan deras. Semenjak Blackberry yang sering hang-lepas baterei-banting itu musnah, diganti oleh android berlayar lebar dan canggih ketika disentuh.
Facebook meledak..
Youtube meletus..
Instagram menggelegar…

Jutaan orang punya mainan baru di genggaman. Siang malam dipelototi.. ke WC dibawa, mau tidur jadi mainan di kasur.

Para ustadz dan ulama punya media baru untuk berdakwah tanpa harus dibedaki di layar tivi. Bebas membahas apa saja tanpa disetir produser acara religi.

Termasuk tentang kajian fiqih muamalah. Ribuan video tentang riba tersedia di semua sosial media. Puluhan ustadz ahli fiqih muamalah membahasnya. Dari penjelasan detail apa itu riba, bagaimana hukum praktek perbankan, leasing, asuransi, MLM, sampai masalah-masalah kontemporer produk terbaru yang belum ada di masa 10 tahun lalu.

Siapapun bisa melihatnya dan belajar dari sosial media, tentu kajian riba salah satu yang bisa ditonton dengan mudah oleh mereka yang masih bekerja di tempat yang berdekatan dengan akad-akad riba, dan membuat gelisah hatinya.

Kemudian muncul lah komunitas XBank. Komunitas ini lahir 15 Juli 2017 dari inisiatif mas El Candra, mantan bankir yang sudah belasan tahun bekerja hingga jabatan satu level di bawah direksi di sebuah perbankan nasional. Komunitas ini membesar lewat ‘gethok tular’ mulut ke mulut, dilempar di sosial media dan group WA.

“Saat ini kami punya member 6200an seluruh Indonesia, ada 32 group WA dan terus bertambah dengan syarat minimal 100 orang di satu wilayah jika mau dibuatkan group WA baru.. “ kata Nopan Nopiardi salah satu pentolan XBank yang juga mantan bankir itu.

Beberapa waktu lalu mereka melakukan Kopdar di Jogja, saya diundang untuk berbicara dalam talkshow sebagai nasabah yang dulu jaman jahiliyah suka bergantung ke bank untuk memenuhi semua kebutuhan, dari modal usaha hingga gaya hidup.

Sejak saya masuk ruangan jam 9 pagi, suasana begitu adem. Walaupun yang di depan saya para mantan bankir dan ada juga yang masih bankir aktif, tidak ada yang agresif menawarkan kredit.. hehe ya iyalah!

Satu jam pertama saya bercerita bagaimana 6 tahun saya berbisnis dan terjerat akad riba di berbagai bank, leasing dan asuransi. Ketika ketenangan hati tercabut, hidup hanya untuk mikir cicilan dan angsuran.. musibah demi musibah berdatangan. Halangan demi halangan bermunculan. Sampai saya diingatkan oleh seorang kawan tentang peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Jauhi tujuh perkara yang membinasakan (membawa pada kehancuran), diantaranya… memakan RIBA” [HR Bukhari 2766 & Muslim 89]

Duuuh! Apakah saya ini pelaku riba? Kan saya yang ngutang! Saya gak makan duit riba!
Saya disodori lagi sebuah hadist, Nabi melaknat semua orang yang terlibat disana: yang minjemin, yang minjem, yang nyatet, yang jadi saksi.. semua sama dalam dosa! Klakep deh saya gak bisa jawab..

Dan pukulan paling telak ketika saya dihantam di dada pakai Qur’an surat Al Baqarah 278-279 yang menyatakan perintah untuk meninggalkan riba, jika tidak maka akan DIPERANGI Allah dan Rasul-Nya.

Makdeg!! Nyesek!
“Aku ini ciptaanMu wahai Allah.. kok sekarang aku malah Kau perangi! Apa aku bisa menang ya Allah?”

Sesi kedua tanya jawab dan testimoni peserta, terbawa suasana semuanya karena mendengar penuturan mereka.

Mas El Candra memulai,
“Disini banyak mantan kawan-kawan AO bank, merasa berdosa ketika membujuk orang berutang tiap hari karena kejar target, lah saya ini kepala divisi yang membawahi 1000 AO (Account Officer), bayangkan berapa kali lipat-lipat dosa saya..” katanya dengan suara gemetar.

*******

Bersambung ke artikel selanjutnya (Xbank Bag. 2)

ketika para xbank itu berkumpul 1 ketika para xbank itu berkumpul 2

Bagikan

Kisah Keajaiban Sedekah, Diangkat 1000 Doa.

Di tahun 2015 saya bersama kang Jamil Azzaini dan mbah Asrori dari Semarang diundang live di TV One di acara Gestur. Kami diminta bercerita bagaimana sedekah itu “menghidupkan kehidupan!” Bikin hidup makin hidup..

Saya cium tangan lelaki tua yang sudah 92 tahun hidup di dunia itu, kami bertemu di Bandara Halim Jakarta, beda pesawat tapi bareng landingnya. Kisah mbah Asrori selalu membuat hati gerimis, setiap jumat beliau membagi 150 nasi bungkus dari uangnya sendiri hasil dari mengajar ngaji.. inilah orang kaya sejati!

Di dalam mobil saya bertanya, apa mbah kunci agar panjang umur..
Jawaban beliau tegas dan jelas di telinga dan selalu saya ingat!
“Kowe kudu rutin moco Qur’an, kudu okeh silaturahmi, lan kudu okeh sedekah!”

Mak jleb! Berat itu mbah.. beraaattt!!

Kami hidup di jaman baca status di facebook dan instagram lebih mengasyikan di banding baca Qur’an!

Kami hidup di jaman kebencian disebar di jalanan, caci maki diumbar dalam layar HP di tangan! Silaturahmi dengan kawan putus jadi kebencian karena beda pandangan dan pilihan!

Kami hidup di jaman gaya hidup diumbar demi pamer walaupun semua penuh cicilan! Bagaimana kami mau sedekah mbah, cicilan-cicilan masih antri belum dibayar.. Daripada buat sedekah mending uangnya buat bayar semua tagihan..

Berat mbah! Beraaatt!!

Di akhir acara simbah melantunkan bacaan Qur’an dengan merdunya, membuat semua yang ada di studio berkaca-kaca…

*******

Seminggu lalu saya bertemu dengan Rex Marindo, salah satu founder Warunk Upnormal yang punya 78 cabang dalam 5 tahun, rame dimana-mana siang dan malam. Bahkan dengan jaringan brand lainnya seperti Nasi Goreng Mafia dan Bakso Boedjangan tembus 120 an cabang di seluruh Indonesia, dengan 4000 karyawannya.

Saya bertemu Rex di salah satu cabang Upnormal di Jalan Kaliurang Jogja, mengejutkan bahwa semua usahanya tidak melibatkan utang bank. Bahkan dulu diawal mereka mau ekspansi, ada usulan untuk utang bank dan Rex memilih untuk mundur jika itu dilakukan. Akhirnya mereka memilih menggaet investor untuk dapat membuka banyak cabang, dengan akad kerjasama usaha, tanpa pernah membuka akad riba.

Ada cerita dari Rex yang membuat saya terpana,
“Ketika ngobrol dengan kawan-kawan di Upnormal, kami seperti diingatkan.. apa iya kami bisa melejit seperti sekarang karena 1000 doa yang dulu dibacakan orang-orang..”

Whoottt? 1000 doa?

“Iya mas, ketika 2013 kami memulai Nasi Goreng Mafia di Bandung, hari pertama kami bikin pengumuman.. GRATIS 1000 PORSI NASI GORENG, CUKUP DIBAYAR DENGAN DOA. Jadi bener kami siapkan 1000 porsi untuk sedekah di depan, dan setiap orang yang makan kami beri kertas, dan kami minta mereka membacanya.. Ya Allah semoga usaha nasi goreng ini berkah, laris dan bermanfaat”

Masya ALLAH…

Ludes hari itu?

“Ludes, gak bersisa.. hari kedua kami jualan seperti biasa, dari omzet ratusan ribu sehari hingga jutaan sehari, grafiknya terus naik. Sampai akhirnya kami sampai di titik ini..”

Giving! Giving! Giving!

Itulah ilmu yang diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.. kita harus banyak memberi jika mau dibukakan pintu-pintu rezeki. Namun sebaliknya, jika hidup selalu pelit, medit, maka rezekipun hanya makcrit!!

@Saptuari

kisah keajaiban sedekah dan diangkat 1000 doa kisah keajaiban sedekah dan diangkat 1000 doa 2

Bagikan

Sudahlah Kawan, Berhentilah Dari Riba..!!

sudahlah kawan, berhentilah dari riba

Kita dibuat terhenyak kemarin karena mendengar berita bahwa ada tiga anggota Brimob yang sedang bertugas di Blora ditemukan tewas tertembak. Penyelidikan dilakukan polisi, kesimpulannya seorang dari mereka menembak dua kawannya, lalu bunuh diri.

Hari ini kita kembali terhenyak, karena berita tersebut jadi headline di beberapa media. Pelaku penembakan itu stress karena utang. Karena riba. Astaghfirullah..

Berhentilah wahai kawan, jika engkau masih ngeyel bisa hidup dari utang riba dan riba, melompat dari pinjaman satu ke pinjaman lain, dengan bunga berbunga, dengan denda dan ancaman sita..

Tak lelahkah engkau? Setiap harimu menjadi was-was sebab takut ditagih utang??

Awalnya yakin untuk menambah modal usaha, atau tawaran untuk menaikkan level hidup lebih bergaya. Tidak tahu bahwa dibelakangnya ada jebakan menganga, engkau masuk ke lingkaran riba yang mengerikan..

Sudahlah, kawan.. ALLAH sudah mengharamkan serta mengancam…
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudah dengan keras mengingatkan…

“Allah memusnahkan RIBA dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan bergelimang dosa.”
[QS. Al-Baqarah: Ayat 276]

“Jauhi tujuh perkara yang membinasakan (membawa pada kehancuran), diantaranya adalah memakan RIBA..”
[HR Bukhari 2766 & Muslim 89]

Ini bukan kasus pertama..

Ketika jari Anda membuka google, ketiklah: “mati bunuh diri karena utang”
Maka akan muncul ribuan berita yang menyesakkan dada tentang orang-orang yang memilih mati karena jeratan utang dan riba.

Ada yang memilih gantung diri..
Ada yang nyebur ke sumur..
Ada yang minum cairan beracun..
Ada menabrakkan dirinya ke kereta..
Mati! Dengan sia-sia..

Na’udzubillah..

Kawanku, kalian yang setiap hari masih menawarkan utang-utang baru dalam kemasan produk apapun.. Apakah hati kalian juga gelisah seperti hati kami yang jadi sasaranmu?

Kalau iya.. berarti kita sama..
Hati kecil kita menolak jadi korban kapitalisme dunia yang menyilaukan mata..

Sungguh kita sama, menolak jadi korban keserakahan dan tipu daya dunia..

Jabatlah tangan kami..
Rangkul lah pundak kami
Tak ada yang akan dibully..
Berhentilah kawan..
Kami sudah membuktikan..
Dunia milik ALLAH ini begitu indah jika kita hidup tanpa utang riba..

Bagikan

Wakapolres Yang Menolak Riba

Ada teman di Facebook yang sering mengirimi saya email dan konsultasi soal wirausaha, mas Hidayat saya memanggilnya. Belum lama dia ngaku kalau dia adalah Polisi dengan jabatan Wakapolres Tojo Una Una di Ampana, kabupaten di Sulawesi Tengah dekat pulau Togean yang ngehits divingnya itu.

“Saya ini polisi mas, tapi jiwa wirausaha saya butuh pelampiasan, makanya saya bikin Kedai Kopi Sarang Walet disini. Kadang pembelinya anak buah saya sendiri hehe.. Kapan lagi minum dibuatin Wakapolres katanya, saya gak malu menjalaninya. Yang penting itu rejeki halal buat saya dan keluarga..”

Wow! Wakapolres itu orang kedua di kepolisian tingkat kabupaten dan kota yaa.. Pangkatnya Kompol, Masih mau jualan buka Kedai Kopi.. Luarr biasa!

“Saya lulus Akpol Semarang tahun 2000, terus tugas di Klaten. Saya asli Makassar mas, belajar bahasa Jawa dari anak buah saya di Klaten dan istri yang asli Jogja. Hehe.. Jadi polisi banyak godaannya mas, saya ingin konsisten untuk mencari rejeki yang berkah saja. Saya sudah ngomong ke istri, kalau jadi polisi yang biasa-biasa saja biar selamet. Yang penting Allah ridho..”

Masya Allah.. Ceritanya terus meluncur lincah masuk ke HP saya..

“Setelah saya membaca buku Kembali Ke Titik Nol dan membaca postingan di Facebook mas Saptuari, saya baru sadar bahayanya riba.. Karena sayapun mengalami, dan sekarang sedang proses saya bersihkan riba dari harta saya, mas.

Jabatan saya sebagai Wakapolres harus saya jadikan syiar juga. Hampir semua anggota saya mengajukan kredit dengan agunan SK nya mas, dan harus ada persetujuan 5 orang, dari Kasatfung, Kasikeu, Kasipropam, Kabagsumda dan Wakapolres. Semua menyetujui kecuali saya.. Saya tidak mau anggota saya terjebak gaya hidup dengan kredit, sehingga gaji mereka tiap bulan ludes hanya untuk bayar cicilan, itu yang akan membuat mereka gampang tergoda rejeki yang tidak halal..”

“Apa gak bikin mereka senewen mas? Sudah semangat juang mau utang riba, tapi mental pas di tanda tangan terakhir Wakapolres..

“Nah itu, Kadang ada perasaan gak tega juga mas. Tapi semoga mereka paham yang saya lakukan justru untuk kebaikan mereka. SK tergadai itu gak enak.. Sampai pak Kapolres bilang kalau saya ini sadisss kalo soal kredit! Hehe.. Gakpapa yang penting perlahan anggota saya bebas dari jeratan utang, pokoknya selama saya jadi Wakapolres disini semua kredit akan saya tolak!”

Ngeriiii… Anggotanya yang mau kredit macem-macem jadi ngeperrrrr duluan! Hehe..
Ada rencana mau jadi Kapolres nanti mas Hidayat?

“Belum tau mas, kalau mau jadi Kapolres harus sekolah lagi. Padahal saya maunya jadi pengusaha, biar nanti Allah yang tunjukkan jalannya. Yang penting rejeki yang saya terima ada keberkahannya. Buat apa harta banyak tapi gak berkah ya mas..”

Saya merinding dengernya..
Selalu ada polisi yang menginspirasi di tengah hiruk pikuk beritanya yang kadang bikin kontroversi..

“Saya mau bikin Wisata Religi di Pulau Togean mas, kalau ada kawan-kawan yang berminat bisa hubungi saya. Nanti saya kawal tadabur alam disini. Indah sekali, tim My Trip My Adventure Trans TV kemarin mampir ke tempat saya. Silahkan bawa rombongan, nanti saya antarkan…”

Saya belajar dari mas Hidayat tentang sebuah semangat syiar, dan jabatan yang tidak membutakan mata hati. Karena sadar semua hanya titipan yang nanti pasti dipertanggungjawabkan..

Bagaimana dengan dirimu?
Sudah berani mengejar keberkahan Tuhan?

Salam,
@Saptuari

wakapolres yang menolak riba 1 wakapolres yang menolak riba 2 wakapolres yang menolak riba 3

Bagikan