Berikan Rezeki Yang Halal Untuk Keluarga

Ada tulisan di sebuah group telegram yang saya baca beberapa hari lalu mengusik hati.. Siapapun kita sebagai lelaki dan kepala keluarga, membaca ini pasti akan terusik karena takut jika ada harta haram yang ditelan oleh istri, anak dan keluarga kita..

Selamat membaca..

Catatan Untuk Kepala Keluarga..

Salah satu diantara musibah besar yang menimpa sebagian keluarga muslim adalah, penghasilan sang suami sebagai penanggung jawab nafkah berasal dari sumber yang haram. Meskipun bisa jadi mereka terlihat tidur nyenyak, di rumah megah nan sejuk ber AC, namun sejatinya hati mereka tidak akan bisa tenang.

Semewah apapun fasilitas yang mereka miliki, mereka tidak akan bisa menggapai ketenangan layaknya orang yang berpenghasilan halal. Karena seperti itulah yang Allah nashkan dalam Al-quran:

“Siapa yang berpaling dari peringatan yang Aku turunkan, dia akan mendapatkan kehidupan yang sempit…” (QS. Thaha: 124).

Sementara Rasulullah shallallhu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan mereka yang bergelut dengan harta haram:

Dari Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada daging yang tumbuh dari as-suht, kecuali neraka lebih layak baginya.” (HR. Turmudzi 614 dan dishahihkan al-Albani).

Dalam riwayat dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma:

“Tidak akan masuk surga, daging yang tumbuh dari as-suht, maka neraka lebih layak baginya.” (HR. Ahmad 14032 dengan sanad jayid sebagaimana keterangan al-Albani).

Halalkah pekerjaan kita wahai para penanggung jawab nafkah? Sudahkah kita mencemaskan keselamatan daging-daging keluarga kita? Pernahkah kita mengkhawatirkan anak dan istri ketika mereka makan bara api neraka? Maka berusahalah mencari rezeki dari jalan yang halal.

Syaikhul Islam mengatakan:
Makanan akan bercampur dengan tubuh dan tumbuh menjadi jaringan dan sel penyusunnya. Jika makanan itu jelek maka badan menjadi jelek, sehingga layak untuknya neraka. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, ‘Setiap jasad yang tumbuh dari harta haram, maka neraka layak untuknya.‘ Sementara surga adalah kebaikan, yang tidak akan dimasuki kecuali tubuh yang baik. (Ma’mu’ al-Fatawa, 21:541).

Mereka Yang Cemas Ketika Makan Harta Haram

Aisyah radhiallahu ‘anha pernah menceritakan:

Abu Bakar memiliki seorang budak. Pada suatu hari, sang budak datang dengan membawa makanan dan diberikan kepada Abu Bakar. Setelah selesai makan, sang majikan yang wara’ bertanya, ‘Itu makanan dari mana?’ Si budak menjawab: “Dulu saya pernah berpura-pura jadi dukun semasa jahiliyah. Kemudian aku meramal seseorang. Sebenarnya saya tidak bisa meramal, namun dia hanya saya tipu. Baru saja saya bertemu dengannya dan dia memberi makanan itu, yang baru saja tuan santap.

”Seketika itu, Abu Bakar langsung memasukkan jarinya dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Lalu Abu Bakar mengatakan: Andaikan makanan itu tidak bisa keluar kecuali ruhku harus keluar (mati), aku akan tetap mengeluarkannya..”

Kisah yang lain

Abu Said al-Khadimy (ulama mazhab Hanafi, wafat: 1156 H) meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah menitipkan 70 helai kain kepada Bisyr untuk dijual di Mesir. Tidak lupa Abu Hanifah menulis surat kepadanya bahwa kain yang telah diberi tanda, ada cacatnya. Beliau juga memintanya untuk menjelaskan cacat tersebut kepada calon pembeli.

Setelah kembali ke Irak, Bisyr menyerahkan uang hasil penjualan kepada Abu Hanifah sebanyak 3000 keping dinar (± 12,75 kg emas, dengan asumsi 1 dinar = 4,25 gr).

Lalu Abu Hanifah menanyakan kepada Al Bisyr, ‘Apakah satu kain yang cacat telah kamu jelaskan kepada pembeli saat menjual?

Bisyr menjawab, “Aku lupa”.

Seketika sang imam (Abu Hanifah) berdiri, lalu mensedekahkan seluruh hasil penjualan 70 helai kain tersebut. Sebuah nilai yang sangat besar, 12,75 kg emas.

Untuk Istri, Bantulah Sang Suami Untuk Mencari Nafkah Yang Halal

Menyadari keselamatan nafkah keluarga ada di tangan suami, selayaknya setiap istri berusaha memotivasi suaminya untuk mencari rezeki yang halal. Tunjukkan sikap qanaah (merasa cukup dengan apa yang halal) dan bukan menjadi tipe penuntut.

Istri harus memahami, salah satu faktor suami rela untuk bergulat dengan kerasnya hidup adalah dalam rangka membahagiakan istri dan keluarga. Bila perlu, dia akan berikan seisi dunia ini kepada istrinya agar bahagia bersamanya.

Maka tak heran, sebagian lelaki pecundang, yang merasa tertuntut untuk membahagiakan keluarga, harus tega-tegaan merenggut harta haram, demi mendapatkan target kebahagiaan yang diharapkan. Dari pada pulang dengan disambut wajah cemberut sang istri, lebih baik pulang dengan harta haram.

Qanaah, itulah kata kuncinya. Merasa cukup dengan yang halal, itulah intinya. Letakkan arti kebahagiaan itu di hati Anda, bukan di mulut dan perut Anda. Karena kebahagiaan atau kesenangan dengan standar mulut dan perut adalah ciri khas binatang.

Sekali lagi, sifat qanaah inilah yang selayaknya dimilik kaum istri, wanita-wanita sholihah, calon-calon bidadari surga. Menghiasai kecantikan dirinya dengan kecantikan akhlaknya. Betapa bahagianya sebuah keluaga dengan kehadiran mereka di tengah-tengah keluarga muslim.

Masih ada waktu untuk kita bertobat. Masih ada kesempatan untuk kita memahami transaksi riba dalam bisnis beserta turunannya. Pastikan setiap keringat yang kita keluarkan untuk mencari nafkah bagi keluarga bernilai berkah.

berikan rezeki yang halal untuk keluarga

Bagikan