Adab Utang-Piutang

Utang piutang adalah transaksi yang dibolehkan dalam Islam. Namun yang harus diingat bahwa jika tidak dilakukan dengan benar sesuai dengan syariat maka praktek tersebut bisa jatuh kedalam riba. Oleh karena itu Islam mengatur hal – hal yang menjadi adab utang-piutang ini.

Hal tersebut sangat penting sebagai pengontrol dan mengatur segala aktivitas kita sebagai umat Islam agar tetap pada jalur yang benar termasuk dalam adab utang-piutang. Dikutip dari laman almanhaj.co.id berikut ini adalah beberapa poinnya:

  1. Dalam utang-piutang tidak boleh mendatangkan keuntungan bagi si pemberi hutang karena hal ini bisa mendatangkan riba sebagaimana dalam kaidah ilmu fikih: Setiap hutang yang membawa keuntungan (manfaat) maka hukumnya adalah riba”Hal ini bisa terjadi jika si pemberi utang atau pihak yang berhutang mensyaratkan atau menjanjikan penambahan di awal akadnya. Namun beda halnya jika orang yang berhutang menambah setelah pembayaran dengan kehendaknya sendiri, maka hal itu merupakan tabiat orang yang mulia, sifat asli orang dermawan dan akhlak orang yang mengerti balas budi.
  2. Bahwa kebaikan harus dibalas dengan kebaikan, termasuk dalam urusan utang-piutang. Contohnya ketika si pengutang melunasi hutangnya dengan melebihkan jumlah hutangnya kepada si pemberi utang dengan inisiatif sendiri (bukan permintaan dari yang memberi hutang).
    Dalam sebuah riwayat pernah disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai hutang seekor unta dengan usia tertentu kepada seseorang. Suatu hari orang itu pun datang menagihnya. Maka Rasulullah berkata kepada para sahabatnya agar memberikan kepada orang tersebut unta yang sesuai dengan usia unta yang beliau pernah berhutang dulu, namun para sahabat tidak dapat menemukan yang sama usianya kecuali yang usianya sedikit lebih besar. Maka Rasulullah berkata agar memberikan unta yang usianya lebih besar tersebut kepada orang tadi. Kemudian orang tersebut merasa senang dan mendoakan kebaikan kepada Rasulullah SAW. Lalu Beliau Shollallhu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam pengembalian hutangnya.
  3. Si pengutang harus berhutang dengan niat yang baik, karena kalau ia berhutang dengan niat yang tidak baik, maka dia berarti telah berbuat zalim. Diantara niat atau tujuan yang tidak baik tersebut seperti:
    # Berhutang untuk menutupi hutangnya yang lain yang tidak terbayar
    # Berhutang untuk alasan hura-hura
    # Berhutang dengan niat meminta. Karena biasanya jika meminta tidak diberi, maka sengaja digunakan istilah hutang agar orang mau mau memberi.

Bersambung ke tulisan selanjutnya; Adab Utang-Piutang (Bag. 2)

adab utang-piutang

Bagikan