Utang-Piutang Dalam Islam

Melanjutkan tulisan sebelumnya yang membahas tentang adab dalam berhutang, berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang utang-piutang dalam Islam seperti dilansir dari laman al-manhaj.co.id.

1. Hutang yang disepakati tidak boleh disertai dengan jual beli. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang praktek seperti ini karena transaksi tersebut dapat mengandung unsur riba. Contohnya ketika seseorang berhutang kepada orang lain, lalu dua orang tersebut juga melakukan transaksi jual beli yang mana orang yang berhutang tadi menjual barang kepada orang yang memberi hutang dengan harga yang jauh lebih mahal dari biasanya. Maka transaksi seperti ini tidak termasuk kedalam adab utang-piutang dalam Islam yang benar karena termasuk kepada riba.

2. Wajib membayar hutang. Hal ini jelas sebagai peringatan bagi orang yang ingin berhutang karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk menunaikan amanah. Dan hutang merupakan salah satu bentuk amanah di pundak orang yang berhutang yang harus ditunaikan atau dibayarkan.

Rasulullah Shollallhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
”Siapa saja yang berhutang dan ia tidak berencana mengembalikannya kepada pemiliknya, maka ia akan menjumpai Allah dengan status sebagai pencuri..” (HR. Ibnu Majah)

3. Jika orang yang berhutang sedang kesulitan dan belum mampu untuk membayar hutangnya sesuai waktu yang telah disepakati, maka ia harus memberitahukannya kepada si pemberi hutang. Inilah adab utang-piutang dalam Islam yang dibenarkan.

4. Bagi yang ingin berhutang hendaknya ia mencari solusi lain terlebih dahulu sebelum berhutang, sehingga telah jelas baginya bahwa hutang merupakan solusi yang terakhir.

5. Diperbolehkan jika terjadi pelimpahan hutang dari orang yang berhutang kepada orang lain yang memang sudah ada kesepakatan diantara mereka (misalnya karena si A sudah tidak bisa membayar hutang maka si A melimpahkan hutangnya kepada si B yang memang sudah disepakati sebelumnya antara si A dan si B).

Demikianlah beberapa hal yang menjadi adab utang-piutang dalam Islam yang benar sebagaimana kami lansir dari laman al-manhaj.co.id. Semoga dengan memahami permasalahan ini, kita akan semakin berhati-hati dalam melakukan transaksi utang-piutang agar tidak terjerumus  kedalam riba yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tentunya sangat merugikan manusia.

Sebagai penutup, amalkanlah doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam ini menyangkut utang-piutang dalam Islam: “Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain Mu..” (HR Tirmidzi)

 

utang-piutang dalam islam

Bagikan